Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Berikut ini, sebelas karakter yang menjerumuskan manusia ke dalam kerugian. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya.

[1] Memeluk agama selain Islam

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan di akherat kelak dia pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85). Hakekat dari ajaran agama Islam adalah; berserah diri kepada Allah dengan bertauhid, patuh kepadanya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari segala bentuk syirik dan pelakunya (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 30)

[2] Murtad dari agama Islam

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh sia-sia amal mereka dan di akherat dia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. al-Ma’idah: 5). Kemurtadan bisa dibagi menjadi tiga bentuk; [1] Keyakinan, seperti halnya menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas haram dalam agama dan telah dimengerti dengan gamblang oleh setiap orang misalnya menghalalkan zina dan minum khamr. [2] Perbuatan, seperti halnya bersujud kepada makhluk, melempar mushaf al-Qur’an secara sengaja ke dalam comberan, dsb. [3] Ucapan, seperti halnya mengolok-olok adanya surga dan neraka, atau mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hukum-hukum syari’at, dsb. (lihat Matn al-Ghayah wa at-Taqrib ta’liq Majid al-Hamawi, hal. 310-311)

[3] Berbuat syirik

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu; bahwa jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kelak kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65). Syirik terbagi 2; akbar dan ashghar. Syirik akbar; mengeluarkan dari agama, pelakunya -jika meninggal dan tidak bertaubat- maka kekal di neraka, menghapuskan semua amalan, menyebabkan bolehnya menumpahkan darah dan mengambil hartanya. Syirik ashghar; tidak mengeluarkan dari agama, apabila pelakunya masuk neraka maka tidak kekal, tidak menghapuskan semua amalan namun hanya amalan yang tercampurinya, tidak menyebabkan bolehnya menumpahkan darah atau mengambil hartanya (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 20)

[4] Lemah iman dan tidak berpendirian

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebaikan (kesenangan dunia) dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan (musibah) dia berbalik ke belakang (murtad). Dia rugi di dunia dan di akherat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. al-Hajj: 11). Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah; diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, diamalkan dengan anggota badan, bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan (lihat at-Tauhid al-Muyassar, hal. 45). Iman itu bercabang-cabang dan berbeda-beda tingkatannya, ada di antaranya jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran, ada yang jika ditinggalkan menyebabkan dosa besar atau kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan menyebabkan tersia-siakannya pahala (lihat Mujmal Masa’il Iman, hal. 14)

[5] Tidak beramal salih dan tidak berdakwah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3). Mutharrif bin Abdullah berkata, “Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Adapun baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.” Ibnul Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya.” Ibnu ‘Ajlan berkata, “Amal tidak akan baik kecuali dengan tiga hal; ketakwaan kepada Allah, niat yang baik, dan benar/sesuai tuntunan.” Fudhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Dakwah juga termasuk bagian dari amal ibadah, sehingga harus ikhlas dan sesuai tuntunan (lihat al-Hujaj al-Qawiyyah, hal. 11)

[6] Mendustakan perjumpaan dengan Allah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh merugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Sehingga apabila kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, maka mereka berkata; ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu.’ Sementara mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.” (QS. al-An’aam: 31). Barangsiapa yang mendustakan hari kebangkitan maka dia telah kafir (lihat QS. At-Taghabun: 7).

[7] Menentang ayat-ayat Allah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “(dan) barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya (karena timbangan keburukan/dosanya lebih berat), maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. al-A’raaf: 9)

[8] Mengangkat setan sebagai pelindung

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menjadikan syaitan sebagai wali/pelindung maka sesungguhnya dia telah menderita kerugian yang sangat nyata.” (QS. an-Nisaa’: 119). Bagaimana musuh justru dijadikan teman? Sementara Allah ta’ala berfirman mengisahkan ucapan Iblis sang pemuka syaithan (yang artinya), “Karena Engkau telah menetapkan aku sesat, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku pasti akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. al-A’raaf: 16-17). Gangguan Iblis ‘dari arah kiri’, menurut penafsiran sebagian ulama dimaknakan dengan kemaksiatan yang diperintahkan dan dianjurkan Iblis yang dihias-hiasi olehnya supaya tampak indah dan menarik (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 137).

[9] Berbuat kerusakan di bumi

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “(orang fasik yaitu) orang-orang yang melenggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Baqarah: 27). Melakukan kemaksiatan adalah bentuk dari berbuat kerusakan di bumi (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 48).

[10] Merasa aman dari makar Allah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raaf: 99). Merasa aman dari makar Allah tergolong dosa besar yang sangat besar karena ia bertolak belakang dengan nilai-nilai tauhid. Termasuk bentuk merasa aman dari makar Allah adalah terus bertahan di atas kemaksiatan namun mengangankan ampunan Allah (lihat Fath al-Majid, hal. 346-347)

[11] Bergabung dengan hizbu syaithan

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah bahwa sesungguhnya hizb syaithan itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Mujadilah: 19). Termasuk dalam golongan hizb syaithan adalah kaum munafikin yang memberikan loyalitas kepada orang kafir (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 847)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing
atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat
(HR Bukhari)

Dari 7 besaran ISO yang kita ketahui yakni panjang, temperatur, massa, waktu, arus listrik, jumlah zat dan intensitas cahaya, hanya satu besaran yang susah untuk dipahami, waktu. Hidup manusia didunia ter-fungsi-kan oleh waktu. Waktulah yang membatasi antara satu kehidupan dengan kehidupan yang lain. Dan sekarang mari kita bermain dengan waktu.

Saya mau nanya dulu, ada yang tahu definisi waktu??? Waktu menurut para ahli sih besaran untuk mengukur tingkat perubahan yang terjadi pada benda atau zat. Kita sendiri menjadi bukti dari definisi ini, masih ingatkah saat kita lagi imut-imutnya di gendong oleh bunda, atau saat kuda-kudaan dengan ayah kita, namun lihat diri kita sekarang, sudah berubah bukan dari saat kita digendong dan maen kudaa-kudaan. Malahan kayaknya sekarang udah pengen ngegendong atau jadi kuda-kudaan. Hehe,.. itu semua karena waktu kawan.

Pada jaman dulu, manusia manusia menganggap waktu itu absolute (kecuali dalam islam). Waktu dianggap sama saja tidak peduli pada acuannya. Baru pada abad 20, akang einstein mengeluarkan postulat yang menyatakan bahwa waktu itu RELATIF tergantung pada acuannya. Doi memisalkan, jika kawan ngobrol dengannya yang udah tua, beruban dan keriput, ngobrol 1 jam serasa 1 abad. Sedangkan jika ngobrol dengan yang masih muda, berjilbab, dan anggun ngobrol 5 detik serasa 5 jam.(maap kalo analoginya ngawur). Kurang lebih gitu katanya.(rumus fisikanya ga perlu saya turunkan disini,setuju??)

Nah, sekarang saya mengajak kawan semua untuk membandingkan waktu, dengan kerangka acuan waktu didunia yang berdasarkan atas rotasi dan revolusi bumi atau benda langit lainnya versus kerangka acuan akherat berdasarkan berita dari al-qur’an dan hadits,.. let’s start it now.(tarik napas dulu, jangan lupa).

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”
Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari,
maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung .
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja,
kalau kamu sesungguhnya mengetahui

(TQS al-Mu’minuun [23] : 112-114)

Dalam ayat ini kerasa banget hubungannya sama relativitas waktu, bayangkan kawan, manusia yang hidupnya kurang lebih 70 tahun ketika ditanya Robb nya menjawab cuman 1 hari atau setengah hari. Malah kemudian ditimpali oleh Allah bahwa hidupnya hanya sebentar saja,hanya sebentar.(nanti kita coba hitung-hitungan berapa sih sebentarnya itu, sabar ya)

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu,
mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja)
di waktu sore atau pagi hari.

(an-Naazi’aat [79] : 46)

Dalam ayat ini lebih cadas lagi, hidup kita dirasakan hanya selama waktu sore ATAU pagi hari. Jika waktu sore di mulai jam 3 dan diakhiri jam 6, berarti kita merasa hidup cuman 3 jam. Dan jika pagi hari dimulai jam 7 dan selesai jam 11 berarti kita merasa hidup hanya 4 jam. Tentu saja lebih sebentar dari ayat sebelumnya.(betulkan ngitungnya??)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka,
(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia)
hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan.
Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah
dan mereka tidak mendapat petunjuk.

(TQS Yunus [10] : 45)

Pada ayat ini, nambah super cadas lagi komparasinya, hidup kita hanya dirasa SESAAT SAAT SIANG HARI saja, ALLAHUAKBAR,..maka perhatikanlah seruan ini kawan, Allah dan RasulNya tidak mungkin berbohong kan??

Dan sekarang ijinkan saya untuk menghitung perbandingan lama hidup kita menurut apa yang telah di sampaikan nabi kita,..

Bagaimana keadaan kalian jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat
seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya
selama 50.000 tahun
dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian?

(HR Hakim dan Thabrani)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari
yang kadarnya 50.000 tahun.

(TQS al-Ma’arij [70] : 4)

Hadits di atas berhubungan dengan keadaan kita nanti di padang ma’syar (masih adakah yang meragukan pertemuan akbar ini??), kata nabi, kita berada di padang ma’syar selama 50ribu tahun = 50 milenium = 500 abad = 6250 windu dst. Adakah waktu ini sebentar kawan??.

Jika kita korelasikan hadits tersebut dengan ayat dibawahnya kita akan menemukan suatu angka yang sangat fantastis. Mari coba kita hitung,..

Manusia zaman ini hidup dengan umur rata-rata 70 tahun (Rasulullah Muhammad 63 tahun), maka perantauan kita didunia jika dibandingkan dengan relativitas waktu di padang ma’syar hanya akan terasa…(setelah melalui perhitungan yang rumit, pengintegralan tingkat atas, distribusi poisson dan lognormal, akhirnya didapat…) 2 MENIT 1 DETIK,..

Benar kawan, HANYA 2 MENIT 1 DETIK. Maka benarlah pada hari yang dijanjikan itu, manusia-manusia yang ingkar terhadap Robb nya akan diliputi penyesalan yang mendalam, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dipakai untuk hal-hal yang sia-sia, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk melakukan maksiat dan dosa. Merekapun mengandaikan bisa kembali ke dunia, namun sayang, penyesalan tinggal penyesalan. Maka tenggelamlah mereka oleh keringatnya sendiri, karena malu dan takutnya mereka (semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang menyesal tersebut…).

Tapi tetep, saat itu ada juga yang dinaungi awan kasih sayang oleh Robb nya (saat itu matahari cuman sejengkal diatas kepala), merekalah orang-orang yang beruntung. Yang menjadikan waktunya (yang singkat) untuk memperjuangkan agama Robb nya. Yang menjadikan waktunya (yang singkat) untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat buat diri dan sesama. Yang menjadikan waktunya (yang singkat) untuk senantiasa beribadah kepada Ilah nya. Merekapun puas akan apa yang dilakukannya. Tidak sia-sia setiap tetes keringat dan tiap tetes darah yang mereka keluarkan demi kemuliaan agama ini. Tidak sia-sia mereka menahan gejolak mengumbar aurat dan panas-panasan memakai jilbab (bagi akhwat). Tidak sia-sia mereka menahan setiap sentuhan, pandangan, pendengaran dari yang taksemestinya. Dan tidak sia-sia mereka jomblo sampai bener-bener dapet buku coklat dan hijau dari KUA (paham kan maksudnya??). Benar kawan, tidak akan sia-sia setiap amal kebaikan kita. Itulah hidup kita kawan, hanya sebentar, sebentar banget malah.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).
(TQS al-Hasyr [59] : 18)

Perhitungan diatas memakai acuan padang ma’syar dan acuan waktu dunia. Karena memang acuan padang ma’syar saja yang bisa saya ajukan. Karena apa?? Karena kehidupan dunia ini tak akan bisa kita komparasi dengan surga atau neraka. Setiap yang kafir masuk neraka, yang muslim masuk surga (kecuali bagi yang tidak mau), tapi yang muslim juga ada yang munafik, maka ‘dipanaskan’ dulu lah mereka di neraka, kemudian mereka menunggu kasih sayang Robbnya (untuk dimasukkan ke surga). Mereka yang munafik adalah orang-orang yang mengetahui hukum Allah namun kemudian ingkar, mereka yang menerapkan agama secara parsial, mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain. Dan mereka yang muslim, namun ragu akan nilai keislamannya.

Sebagai tambahan, siksaan terendah di neraka itu, penghuninya hanya di suruh memakai semacam sandal, tapi isi kepalanya sampai mendidih dibuatnya. (horori banget kan??),..dan kenikmatan surga, WOW bangetlah pokoknya. Bahkan orang yang semasa hidup dari lahir sampai meninggal sengsara terus hidupnya, ketika dimasukkan ke surga, kemudian ditanya, pernahkah hidup sengsara didunia, dia menjawab, TIDAK,.ALLAHUAKBAR,.. (ayo jadikan surga sebagai kampung halaman kita bersama).

Dan agama ini sudah sempurna kawan. Baik dan buruk, halal dan haram sudah ditetapkan dengan jelas. Setiap aturan kehidupan mulai dari pergaulan, ekonomi, tatacara politik, pendidikan, sosial, hukum, dan ibadah sudah paripurna. Tinggal kitanya, maukah memakainya atau kita tetap dengan keadaan sekarang, pergaulan yang dipenuhi maksiat, ekonomi ribawi, politik sebagai alat kekuasaan, pendidikan komersil, dan hukum peninggalan Belanda. Silahkan pilih?? mau surga atau satunya.,,Allahu’alam.

Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat
kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?

(HR Muslim)

Taken From Feri Yanto’s Notes